“Aaaarrrghh….”
Jatuh trgeletak.
Semua
berubah. Mereka!
Dan
suara itu mulai mendekat.
“Tidaaaakk…
Oh Tuhan… apakah ini saatnya ku mati?”
Lirih.
Perlahan
segaris cahayapun tak terlihat lagi. Gelap. Goresan perih ini. Tak tertahankan.
**
Kicau
burung mulai memekakan telinga. Sayup terdengar riuh angin. Dimana-mana orang
bergegas. Mengenakan pakaian masing-masing. Aku sama dengan mereka. Sebagian
dari mereka berbeda denganku. Seakan di bumi ini tak ada yang mereka
perdulikan, kecuali urusan masing-masing. Berbincang dengan alat elektronik .
Bahkan, ada yang berbincang dengan manusia yang bukan manusia. Mereka tak
menghiraukan. Hanya mengiyakan. Seperti boneka hiasan dalam mobil yang hanya manggut-manggut. Tak diperdulikan?
Mungkin. Dihiraukan? Entahlah.
Deretan tepi jalan ini lagi. Yang sudah bosan ku
lalui selama 11 tahun. Bahkan, aku sudah hafal posisi para pedagang deretan
tepi jalan ini. Ibu-ibu tua yang berjualan minuman es yang dibungkus plastik
dibagian kanan jalan. Bakso pak maman yang masih tutup yang akan ramai oleh
pelanggan berseragam saat jam-jam makan siang diseberangnya. Dan masih banyak
lagi. Aku sedang malas meyebutkannya satu persatu. Karena ini sudah TELAT.