Minggu, 23 September 2018

GADIS BEKASI


Sekarang 24 September 2018, aku ingin membagikan cerpen yang pernah kutulis saat masih SMA pada tahun 2012, dan pernah aku publikasikan di Facebook. Saat aku masih SMA, aku membaca beberapa novel tidak terlalu banyak seperti seseorang yang memang hobi membaca novel. Aku membaca novel bermodalkan pinjam punya teman yang memang hobi membaca novel. Aku membaca novel tidak hanya satu genre tapi beberapa genre dan dari beberapa novel yang aku baca cukup membuatku ingin juga menulis dan memiliki novel karyaku sendiri, jadilah aku membuat beberapa cerpen lalu aku publikasikan di akun facebookku. Dan untuk mengenang dan mengapresiasi tulisan yang pernah aku tulis dengan sedikit bangga terhadap diriku saat itu (hahaha), aku akan publikasikan lagi disini untuk melihat perkembangan yang telah terjadi pada diriku, mungkin beberapa tulisan masa SMA-ku ini masih berfokus pada kisah romansa,harap dimaklumi karena masih remaja :'D
Dan mohon ma'af kalau terdapat hal-hal yang kurang logis dari penggambaran ceritanya ;) 

28 Juni 2012
Ini adalah sebuah cerpen yang saya kumpulkan saat tugas B.Indonesia di sekolah, Bu guru membacakan potongan cerita lalu murid-murid (khususnya siswa kelas XII di SMAN 1 K*** B***) di tuntut untuk menyambung ceritanya sesuai keinginan masing-masing… 
Maaf kalo jelek yaaah ^^v
Buguru bercerita “Bahwa Masri memiliki janji akan menikahi warsiah kalau Negara sudah merdeka”
di ujung cerita “Masri… Masri… lihatlah bendera kita” ……………………..


‘GADIS BEKASI’
”Masri… Masri… lihatlah bendera kita”  Teriak Warsiah sambil berlari menuju Masri yang sedang mencangkul dikebun. Namun tak ada jawaban dari orang yang dipanggil dengan Masri itu, ia tampak asik dengan cangkulnya. Warsiah mendekati Masri dengan menggebu-gebu.
“Masri… bendera kita Masri… bendera kita…!!”
“Kenapa bendera kita? Apa kau melihat bendera kita berkibar? Sudah bosan aku mendengar kabar ini darimu Warsiah!!”
“tapi,kali ini sungguhan Masri…”
“Di rumah RT? Dengar di radio? Atau?”
Belum selesai Masri melanjutkan kata-kata nya,Warsiah langsung menyela ucapan Masri
“aku melihatnya distasiun… ini sungguhan Masri,kali ini aku tak kan salah!”
Sejenak berpikir,Masripun mempercayai perkataan kekasihnya itu,
setibanya distasiun..
“sudahlah Warsiah,negara kita sedang dijajah.. kabar angin seperti itu sering berhembus,siapa yang tidak mau merdeka? Wajar saja kalau kau berhalusinasi..” ucap Masri pada Warsiah, yang sedari tadi terdiam karna menyadari bahwa dirinya memang benar sedang berhalusinasi.
“kau harus dengar..! aku tak kan melupakan janji kita” ucap Masri sambil memegang kedua bahu Warsiah. Kata-kata nya membuat gadis berambut panjang itu mulai tenang dan sedikit menyunggingkan senyuman manis serta anggukan kecil.

====== oOo ======

                Dibawah hamparan awan putih yang beriringan sayup terdengar hembusan angin ditelinga. Kali ini sedikit aneh.. berbeda sekali..
Suara derap langkah beribu semut mulai memekakkan telinga.
“Warsiah..” ucap Masri mencoba mencairkan suasana
“kau kenapa?” tanya Masri lagi pada gadis yang sedari tadi asik mengelus-elus rambut kepangnya yang ditarik kesamping bahu.
Tak ada jawaban dari Warsiah
“jangan cemas Warsiah,aku akan segera pulang secepat mungkin dan membawa kabar gembira untukmu dan semua warga Indonesia” ucap Masri
Sejenak Warsiah mulai mendengar kembali derap langkah semut lagi. Sejuta untaian kata yang telah dipersiapkanpun tak kunjung diucapkannya.
“ma… Masri…!!” akhirnya keluar juga satu kata dari bibir tipisnya itu
“ya… Warsiah??” Masri menatap penuh tanya
“a..aaku takuut… aku tak ingin kau celaka” ucap Warsiah terbata-bata
“aku mengerti perasaanmu,dan sekarang beban besar  berada dipundakku dan para pemuda lainnya”
Warsiah kembali diam dan mengelus-elus rambut kepangnya.
“jangan khawatir Warsiah! kuharap kau setia menunggu kedatanganku! Pria sejati tak kan mengingkari janjinya” ucap Masri sambil mengacak-acak rambut gadis yang sedang duduk disampingnya itu
“huuhh… waktu ku habis untuk berdandan seperti ini tau..!!” ujar Warsiah sambil merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan
“Warsiah… sebelum aku pergi,aku ingin memberimu ini,aku ingin kau menyimpannya..!!” ujar Masri sambil menyodorkan sebuah kalung berliontin dengan liontin merah yang mencolok.
Masripun memasang kalung itu ke leher Warsiah,tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Warsiah
“Indah sekali…” gumam Masri
“Tampaknya sudah saatnya aku pergi,para pemuda lainnya telah menungguku..” ucap Masri
Warsiah tetap diam dengan raut muka tak rela,isyarat bahwa ia tak menginginkan kekasihnya pergi . Namun,Warsiah sangat mengerti akan posisi Masri.

====== oOo ======
                Dua bulan pun berlalu,semenjak kepergian Masri dan Indonesiapun belum mendapatkan kemerdekaannya. Walaupun begitu Warsiah tetap sabar menanti. Menambah kepanikan Warsiah keadaan Indonesia saat itu tidak stabil dan tidak begitu nyaman,terjadi berbagai pemberontakan dan peperangan diberbagai daerah yang membuat Warsiah menjadi was-was dan tetap berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Masri.
17 Agustus 1945 Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaannya,semua warga Indonesia diberbagai penjuru sangat antusias dan sangat bergembira sekali karena impian selama ini agar Indonesia terbebas dari penjajahan telah terwujud.
Berlipat kebahagiaanpun dirasakan oleh Warsiah. Ia menanti sang kekasih dengan penuh harap.
Sayangnya,sang kekasih tak kunjung datang,namun harapan Warsiah tak kunjung padam.
Lima hari setelah kemerdekaan Indonesia sang pahlawan tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya,jelas saja ini membuat hati Warsiah menjadi gelisah,dan takut.
Dihari keenam setelah kemerdekaan para pemuda yang ikut mempertahankan kemerdekaan pulang menuju daerah mereka masing-masing ,terutama daerah Bekasi tempat Masri dan Warsiah tinggal. Namun,para pemuda daerah bekasi membawa sebuah kabar untuk keluarga Masri terkhususnya untuk Warsiah. Bahwa Masri beserta tiga orang pemuda lainnya telah gugur dalam membela Negara walaupun tidak ikut berperang,namun ia menjadi korban dalam pemberontakan. Mendengar kabar itu warsiah sempat jatuh pingsan.

***
“waaahh…… ceritanya mengharukan sekali oma?” celoteh seorang anak
“bagaimana nasib Warsiah? Apakah dia masih hidup? Dimana dia sekarang?”Tanya seorang anak lagi
“ini hanya sebuah dongeng anak-anak,bukan kejadian sesungguhnya…” ujar wanita tua yang dipanggil oma itu
“ooh…. Kapan-kapan bacain dogeng buat kita lagi ya oma..!!”  pinta anak-anak jalanan tersebut
Wanita tua yang dipanggil oma itu hanya tersenyum simpul
“ayo kita main bola!!” ajak seorang anak sambil sedikit berteriak
Anak-anak jalanan lainnya beranjak dari ruang kelas dengan berlari-lari kecil. Ruang kelas mereka ini atau yang biasa disebut dengan “gubuk” ,ya… gubuk ini setiap hari minggu dijadikan kelas mendongeng dan dari senin hingga jum’at dijadikan kelas untuk menimba ilmu,dengan seorang sukarelawan yang mereka panggil dengan sebutan ‘ oma’. Oma adalah sebutan dari anak-anak ini,penanda bahwa oma lebih berumur dari pada mereka.
Dari dalam ruangan oma mengarahkan pandangan keluar,terlihat anak-anak yang begitu gembira,menentramkan hati dan jiwa. Tiba-tiba pandangan oma tertuju pada bendera merah putih yang berkibar pada tiang yang berada kira-kira 100 meter dari pandangannya,oma menatap penuh arti,tanpa sadar oma  memegang sebuah kalung yang menggantung indah dilehernya. Sebuah kalung berliontin dengan liontin  merah yang mencolok. “aku belum pernah melepas kalung ini Masri,aku merindukanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Si Penganggu

Si Pengganggu Kau mengatakan berhenti untuk sengaja membuangku Kau mengatakan maaf untuk membuatmu nyaman di situasi barumu Agar tak a...