Sekarang 24 September 2018, aku
ingin membagikan cerpen yang pernah kutulis saat masih SMA pada tahun 2012, dan
pernah aku publikasikan di Facebook. Saat aku masih SMA, aku membaca beberapa
novel tidak terlalu banyak seperti seseorang yang memang hobi membaca novel.
Aku membaca novel bermodalkan pinjam punya teman yang memang hobi membaca
novel. Aku membaca novel tidak hanya satu genre tapi beberapa genre dan dari
beberapa novel yang aku baca cukup membuatku ingin juga menulis dan memiliki
novel karyaku sendiri, jadilah aku membuat beberapa cerpen lalu aku
publikasikan di akun facebookku. Dan untuk mengenang dan mengapresiasi tulisan
yang pernah aku tulis dengan sedikit bangga terhadap diriku saat itu (hahaha),
aku akan publikasikan lagi disini untuk melihat perkembangan yang telah terjadi
pada diriku, mungkin beberapa tulisan masa SMA-ku ini masih berfokus pada kisah
romansa,harap dimaklumi karena masih remaja :'D
Dan mohon ma'af kalau terdapat
hal-hal yang kurang logis dari penggambaran ceritanya ;)
28 Juni 2012
Ini adalah
sebuah cerpen yang saya kumpulkan saat tugas B.Indonesia di sekolah, Bu guru
membacakan potongan cerita lalu murid-murid (khususnya siswa kelas XII di SMAN
1 K*** B***) di tuntut untuk menyambung ceritanya sesuai keinginan
masing-masing…
Maaf kalo
jelek yaaah ^^v
Buguru
bercerita “Bahwa Masri memiliki janji akan menikahi warsiah kalau Negara sudah
merdeka”
di ujung
cerita “Masri… Masri… lihatlah bendera kita” ……………………..
‘GADIS
BEKASI’
”Masri…
Masri… lihatlah bendera kita” Teriak Warsiah sambil berlari menuju Masri
yang sedang mencangkul dikebun. Namun tak ada jawaban dari orang yang dipanggil
dengan Masri itu, ia tampak asik dengan cangkulnya. Warsiah mendekati Masri
dengan menggebu-gebu.
“Masri…
bendera kita Masri… bendera kita…!!”
“Kenapa
bendera kita? Apa kau melihat bendera kita berkibar? Sudah bosan aku mendengar
kabar ini darimu Warsiah!!”
“tapi,kali
ini sungguhan Masri…”
“Di rumah
RT? Dengar di radio? Atau?”
Belum
selesai Masri melanjutkan kata-kata nya,Warsiah langsung menyela ucapan Masri
“aku melihatnya
distasiun… ini sungguhan Masri,kali ini aku tak kan salah!”
Sejenak
berpikir,Masripun mempercayai perkataan kekasihnya itu,
setibanya
distasiun..
“sudahlah
Warsiah,negara kita sedang dijajah.. kabar angin seperti itu sering
berhembus,siapa yang tidak mau merdeka? Wajar saja kalau kau berhalusinasi..”
ucap Masri pada Warsiah, yang sedari tadi terdiam karna menyadari bahwa dirinya
memang benar sedang berhalusinasi.
“kau harus
dengar..! aku tak kan melupakan janji kita” ucap Masri sambil memegang kedua
bahu Warsiah. Kata-kata nya membuat gadis berambut panjang itu mulai tenang dan
sedikit menyunggingkan senyuman manis serta anggukan kecil.
====== oOo
======
Dibawah hamparan awan putih yang beriringan sayup terdengar hembusan angin ditelinga.
Kali ini sedikit aneh.. berbeda sekali..
Suara derap
langkah beribu semut mulai memekakkan telinga.
“Warsiah..”
ucap Masri mencoba mencairkan suasana
“kau
kenapa?” tanya Masri lagi pada gadis yang sedari tadi asik mengelus-elus rambut
kepangnya yang ditarik kesamping bahu.
Tak ada
jawaban dari Warsiah
“jangan
cemas Warsiah,aku akan segera pulang secepat mungkin dan membawa kabar gembira
untukmu dan semua warga Indonesia” ucap Masri
Sejenak
Warsiah mulai mendengar kembali derap langkah semut lagi. Sejuta untaian kata
yang telah dipersiapkanpun tak kunjung diucapkannya.
“ma…
Masri…!!” akhirnya keluar juga satu kata dari bibir tipisnya itu
“ya…
Warsiah??” Masri menatap penuh tanya
“a..aaku
takuut… aku tak ingin kau celaka” ucap Warsiah terbata-bata
“aku
mengerti perasaanmu,dan sekarang beban besar berada dipundakku dan para
pemuda lainnya”
Warsiah
kembali diam dan mengelus-elus rambut kepangnya.
“jangan
khawatir Warsiah! kuharap kau setia menunggu kedatanganku! Pria sejati tak kan
mengingkari janjinya” ucap Masri sambil mengacak-acak rambut gadis yang sedang
duduk disampingnya itu
“huuhh…
waktu ku habis untuk berdandan seperti ini tau..!!” ujar Warsiah sambil
merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan
“Warsiah…
sebelum aku pergi,aku ingin memberimu ini,aku ingin kau menyimpannya..!!” ujar
Masri sambil menyodorkan sebuah kalung berliontin dengan liontin merah yang
mencolok.
Masripun
memasang kalung itu ke leher Warsiah,tak sepatah katapun yang keluar dari mulut
Warsiah
“Indah
sekali…” gumam Masri
“Tampaknya
sudah saatnya aku pergi,para pemuda lainnya telah menungguku..” ucap Masri
Warsiah
tetap diam dengan raut muka tak rela,isyarat bahwa ia tak menginginkan
kekasihnya pergi . Namun,Warsiah sangat mengerti akan posisi Masri.
====== oOo
======
Dua bulan pun berlalu,semenjak kepergian Masri dan Indonesiapun belum
mendapatkan kemerdekaannya. Walaupun begitu Warsiah tetap sabar menanti.
Menambah kepanikan Warsiah keadaan Indonesia saat itu tidak stabil dan tidak
begitu nyaman,terjadi berbagai pemberontakan dan peperangan diberbagai daerah
yang membuat Warsiah menjadi was-was dan tetap berharap tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan pada Masri.
17 Agustus
1945 Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaannya,semua warga Indonesia diberbagai
penjuru sangat antusias dan sangat bergembira sekali karena impian selama ini
agar Indonesia terbebas dari penjajahan telah terwujud.
Berlipat
kebahagiaanpun dirasakan oleh Warsiah. Ia menanti sang kekasih dengan penuh
harap.
Sayangnya,sang
kekasih tak kunjung datang,namun harapan Warsiah tak kunjung padam.
Lima hari
setelah kemerdekaan Indonesia sang pahlawan tak kunjung memperlihatkan batang
hidungnya,jelas saja ini membuat hati Warsiah menjadi gelisah,dan takut.
Dihari
keenam setelah kemerdekaan para pemuda yang ikut mempertahankan kemerdekaan
pulang menuju daerah mereka masing-masing ,terutama daerah Bekasi
tempat Masri dan Warsiah tinggal. Namun,para pemuda daerah bekasi membawa
sebuah kabar untuk keluarga Masri terkhususnya untuk Warsiah. Bahwa Masri
beserta tiga orang pemuda lainnya telah gugur dalam membela Negara walaupun
tidak ikut berperang,namun ia menjadi korban dalam pemberontakan. Mendengar
kabar itu warsiah sempat jatuh pingsan.
***
“waaahh……
ceritanya mengharukan sekali oma?” celoteh seorang anak
“bagaimana
nasib Warsiah? Apakah dia masih hidup? Dimana dia sekarang?”Tanya seorang anak
lagi
“ini hanya
sebuah dongeng anak-anak,bukan kejadian sesungguhnya…” ujar wanita tua yang
dipanggil oma itu
“ooh….
Kapan-kapan bacain dogeng buat kita lagi ya oma..!!” pinta anak-anak
jalanan tersebut
Wanita tua
yang dipanggil oma itu hanya tersenyum simpul
“ayo kita
main bola!!” ajak seorang anak sambil sedikit berteriak
Anak-anak
jalanan lainnya beranjak dari ruang kelas dengan berlari-lari kecil. Ruang
kelas mereka ini atau yang biasa disebut dengan “gubuk” ,ya… gubuk ini setiap
hari minggu dijadikan kelas mendongeng dan dari senin hingga jum’at dijadikan
kelas untuk menimba ilmu,dengan seorang sukarelawan yang mereka panggil dengan
sebutan ‘ oma’. Oma adalah sebutan dari anak-anak ini,penanda bahwa oma lebih
berumur dari pada mereka.
Dari dalam
ruangan oma mengarahkan pandangan keluar,terlihat anak-anak yang begitu
gembira,menentramkan hati dan jiwa. Tiba-tiba pandangan oma tertuju pada
bendera merah putih yang berkibar pada tiang yang berada kira-kira 100 meter
dari pandangannya,oma menatap penuh arti,tanpa sadar oma memegang sebuah
kalung yang menggantung indah dilehernya. Sebuah kalung berliontin dengan
liontin merah yang mencolok. “aku belum pernah melepas kalung ini
Masri,aku merindukanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar