Selasa, 07 Agustus 2012

Sebuah goresan tak sampai


“Aaaarrrghh….” Jatuh trgeletak.
Semua berubah. Mereka!
Dan suara itu mulai mendekat.
“Tidaaaakk…
Oh Tuhan… apakah ini saatnya ku mati?” Lirih.
Perlahan segaris cahayapun tak terlihat lagi. Gelap. Goresan perih ini. Tak tertahankan.

**
                Kicau burung mulai memekakan telinga. Sayup terdengar riuh angin. Dimana-mana orang bergegas. Mengenakan pakaian masing-masing. Aku sama dengan mereka. Sebagian dari mereka berbeda denganku. Seakan di bumi ini tak ada yang mereka perdulikan, kecuali urusan masing-masing. Berbincang dengan alat elektronik . Bahkan, ada yang berbincang dengan manusia yang bukan manusia. Mereka tak menghiraukan. Hanya mengiyakan. Seperti boneka hiasan dalam mobil yang hanya manggut-manggut. Tak diperdulikan? Mungkin. Dihiraukan? Entahlah.
                Deretan tepi jalan ini lagi. Yang sudah bosan ku lalui selama 11 tahun. Bahkan, aku sudah hafal posisi para pedagang deretan tepi jalan ini. Ibu-ibu tua yang berjualan minuman es yang dibungkus plastik dibagian kanan jalan. Bakso pak maman yang masih tutup yang akan ramai oleh pelanggan berseragam saat jam-jam makan siang diseberangnya. Dan masih banyak lagi. Aku sedang malas meyebutkannya satu persatu. Karena ini sudah TELAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Si Penganggu

Si Pengganggu Kau mengatakan berhenti untuk sengaja membuangku Kau mengatakan maaf untuk membuatmu nyaman di situasi barumu Agar tak a...