Minggu, 23 September 2018

SHIZUKA

Cerpen lain yang aku buat saat SMA :'D

*
*
*

Dipelosok kota tinggallah seorang perempuan yg bernama Shizuka. Ia tinggal di sebuah gubuk tua yang jauh dari keramaian dan masyarakat,dari sana membutuhkan waktu yg lumayan lama untuk pergi ketempat keramain. Shizuka tidak memiliki pekerjaan tetap. Setiap pekerjaan yg dirasa ia mampu selalu dicobanya untuk menghidupi ibunda dan adik tercintanya. Sang adik kini tengah duduk dibangku SMA dan sebentar lagi kuliah. Adiknya bernama triX yaitu siswa cerdas dan berprestasi yg salalu mendapat beasiswa disekolahnya. TriX sangat berambisi untuk membahagiakan keluarganya dan ingin memiliki pendidikan tinggi. Cita-cita triXpun tak seperti anak biasanya triX menginginkan kelak ia akan menjadi seorang direktur terkaya dikotanya. Dan triX juga berambisi jika ia kaya raya kelak ia akan mengobati ibundanya yang sakit-sakitan. Sang Ibu terkena penyakit parah yg tak terobati karena mereka tak memiliki cukup uang untuk pergi berobat.
Dahulunya Shizuka merupakan murid yg cerdas disekolahnya bisa dibilang ia memilki Intelegent yg tinggi diatas rata-rata. Namun karena ayahnya telah tiada dan saat itu adiknya masih kecil jadi Shizuka sering tidak masuk sekolah karena bekerja untuk menghidupi keluarganya,hingga akhirnya ia putus sekolah.


Pagi itu....
“uhuk...uhuk...uhhuuuk...” batuk sang ibu

Shizuka pun mendekati ibunya

Dan Shizu hanya mengambilkan segelas air untuk ibunda tercintanya tanpa berkata-kata dan menyuguhkan minumannya.

“kamu jadi kerja sekarang nak??” tanya sang ibu
“jadi bu,,” jawab Shizu singkat


Tiba-tiba triX keluar dari kamarnya,ia telah lengkap dengan seragam sekolahnya
“kak,, sudah 3 bulan SPP nunggak” ucap triX
“iyaa... Secepatnya kakak akan cari kerja lagi” jawab Shizu

Pagi itu terasa dingin dan hampa,tanpa kehangatan sedikitpun dikeluarga itu,tidak seperti keluarga-keluarga yg lain yg bahagia penuh kehangatan dan kasih sayang.

TriXpun pergi kesekolah,dan Shizupun pergi mencari pekerjaan entah kemana.


Siang harinya,sampailah Shizu disebuah toko roti.

“Permisi,,” ucap Shizu 
‘yaa..ada yg bisa saya bantu??” tanya seorang karyawan
‘saya mau mencari pekerjaan. Apakah ada lowongan?” tanya Shizu
“Saya tanya ke pimpinan dulu ya mbak!” ucap karyawan tersebut


Tak lama kemudian sang karyawan datang bersama pimpinannya


“apa yg kamu bisa??” tanya pimpinan
“saya bisa apa saja selagi saya mampu” ucap Shizu
“coba buatkan saya sebuah roti! Apakah bisa?” tantang pimpinan
“s...ssaya bisa bantu cuci piring disini pak!” ucap Shizu
“saya tak butuh tukang cuci disini!! Yg saya butuhkan seorang karyawan! Kalau kepandaianmu hanya mencuci.. lebih baik kau jadi tukang cuci saja!!” tegas pimpinan
“tt..tapii pak..!! ibu saya sedang sakit-sakitan dan adik saya lg butuh uang untuk sekolahnya...!!” jelas Shizu
‘alaaahhh.... dasar sampah..!! kau kira Cuma kamu yg beralasan seperti itu?? Yg hanya mengandalkan belas kasihan orang lain dengan mengandalkan kata-kata orang tua sakit,adik butuh uang!! Bbaahh.... sudah bosan telinga saya ini mendengarnya..!!” ucap pimpinan
“ta..ta..tapi...” ucap Shizu

Seketika sang pimpinan mendorong Shizu keluar

Dan

*braaakk...
 pintu tokopun ditutup dengan keras yg menandakan bahwa org tersebut tak menginginkan Shizu


Setelah hampir seharian Shizu berkeliling-keliling mencari pekerjaan namun hasilnya nihil.


“harus kemana lagi?”tanya Shizu

Akhirnya Shizupun kembali pulang ke rumahnya dengan tangan hampa


Sesampainya dirumah

Tok

Tok

Tok

*Shizu mengetuk pintu

Kreeek... *pintu dibuka oleh triX

“bagaimana kak? Apakah sudah dapat pekerjaannya?” tanya triX

“NIHIL” ucap Shizu yg langsung masuk kekamar ibunya


Sreeek.... *membuka gorden

Disana terlihat ibu Shizu sedang tertidur pulas. Karna takut mengganggu akhirnya Shizu pergi kebelakang dan mengambilkan air putih beserta obat yg masih tersisa dan meletakkannya dimeja disamping tempat tidur ibunya.

Dan Shizupun ke tempat triX yg sedang belajar

“dek.. uang beasiswa mu itu masih ada kan??” tanya Shizu
“masih..kak...!! jangan bilang kakak mau memakai uangku lagi..!!” ucap triX
“iya... kakak mau pakai untuk.....” ucap Shizu terpotong
“udahh lah kak,, setiap uangku yg kakak pakai selalu kakak gunakan untuk hal-hal yg tidak penting,,berlangganan koran,membeli buku-buku... lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal terdesak kak...!!” jelas triX
“sssstt.... jangan keras-keras nanti ibu bangun!!” ucap Shizu pelan
“sudahlah kak... aku gak mau.. aku mau tidur besok pagi ada ujian” ucap triX judes


 triXpun beranjak tidur



Shizupun sudah kehilangan akal,
Ia pun kekemarnya dan melihat semua koran-koran yg telah ia kumpul kan.



Tak lama setelah melihat-lihat

“hmm...INI DIA..!!!” (ucap Shizu dalam hati)


Pagi-pagi sekali Shizu sudah berbenah.
Dan ia meninggalkan pesan disecarik kertas


“jangan khawatirkan aku,aku bisa jaga diri.. aku akan mencari pekerjaan dan akan pulang setelah berhasil.. jaga ibu baik-baik.
Kakak mu”

Pesan yg ditinggalkan Shizu untuk adiknya.
Sehari Shizupun tak pulang-pulang

Selang dua hari pun tak ada kabar


Tiga hari


Empat hari





Dihari keenam

Tok

Tok

Tok


*ketukan pintu


triXpun membuka pintu

Tampaklah seorang yg berpakaian rapi,bersih.. seperti orang-orang berkelas. Dengan banyak barang bawaan.


“dek...” ucap orang itu
“ kakak...??” tanya triX
“iyaa....” ucap Shizu sambil masuk kedalam rumah


Didalam rumah....
“jadi kakak sudah dapat pekerjaan??” tanya triX
“i..iyaaa... begitulah seperti yg kau lihat..” ucap Shizu
“kakak,kekemar ibu dulu ya.....!!” ucap Shizu sambil beranjak menuju kamar sang ibu

*membuka gorden

“ibuuuu........” teriak Shizu sambil berlari ke arah ibunya dan langsung memeluk
“ibu tenang ya... Shizu udah bawa obat dan segala keperluan ibu. Ibu pasti sehat,Shizu janji..!!” ucap Shizu meneteskan air mata kecil lalu menghapusnya

“kamu sudah dapat pekerjaan nak?” tanya sang ibu
“udah bu... “ jawab Shizu
“kamu kerja apa nak?” tanya ibu lagi
“ibu tenang saja..setiap sekali seminggu Shizu akan pulang dan membawa kebutuhan ibu dan triX” ucap Shizu

“ya sudah kalau begitu,,” ucap ibunya
“sekarang ibu minum obat ya!!” ucap Shizu


Shizupun memberikan obat untuk ibunya

Setelah semua tertidur lelap

Dikamarnya....

Shizu menangis sendirian.

“Aku hanya ingin kalian bahagia.... tak lebih dari ituu....” ucap Shizu


Keesokan paginya
Shizu kembali berbenah
....


Kali ini Shizu berpamitan kepada ibu dan adiknya.

“buu... Shizu pergi dulu ya..!! jangan khawtirkan aku.. aku sudah besar.!!” Ucap Shizu sambil menyalami ibunya
“jaga ibu baik-baik ya dek..!! dan jangan lupa bawa ibu kerumah sakit terdekat untuk check up. Uangnya sudah kakak berikan pada ibu,dan kalau kamu ada keperluan pakai saja uangnya” ucap Shizu
“iyaa..kak” ucap triX

Beginilah kehidupan Shizu.
Dan dalam beberapa bulan pendapatannya sudah banyak.
Ibunya sudah berangsur membaik.
Dan setiap sekali seminggu Shizu pulang untuk memberikan hasil jerih payahnya.

Begitu seterusnya...


Hingga suatu hari

Shizu tak pulang dalm jangka waktu seminggu, dan Shizu pun pulang setelah hitungan satu bulan. Itu pun pendapatannya semakin banyak dan berlipat dari biasanya.Namun, anehnya dengan uang sebanyak itu Shizu tidak mengindahkan permintaan adiknya untuk membeli tivi dan memperbesar rumah mereka.


Di ruang tengah...

“dek... pergunakan uang ini dengan sebaik-baiknya ya..!!” ucap Shizu
‘iyaa..kak. aku mengerti..!” jawab triX

Pagi itu
....


Shizupun kembali berbenah untuk pergi bekerja seperti biasanya.


“bu... Shizu kerja dulu ya...!! dan maafkan Shizu karena udah jadi beban ibu dari lahir hingga sekarang..” ucap Shizu
“kamu bicara apa nak?” tanya ibunya
“Shizu Cuma kepikiran aja bu...” ucap Shizu
“itu bukanlah sesuatu yg harus kamu pikirkan nak..!! kamu pikirkan saja pekerjaanmu,nanti malah menjadi beban pikiran!!” ucap ibu
“ iya bu... Shizu pergi dulu..” ucap Shizu
“dek.. kakak yakin kamu anak yg pintar,suatu saat kamu akan mengerti. Jangan lupa jaga ibu ya dek..!!” ucap Shizu
“iyaa.. kak.. hati-hati ya kak..!!”ucap triX


Seminggu pun usai


2 minggu usai



1 bulan pun berlalu



Hingga 2 bulanpun usai


Dan tibalah dibulan ke-3



Dipelosok kota tempat Shizu tinggal
Seperti biasa langganan koran Shizu pun datang. Dan TriX yg mengambil koran tersebut.


“kakak mu mana dek??” tanya abang tukang koran
“lagi kerja bang,belum pulang..!!” jawab triX
“Ooo... begitu... oya,, ada top news yg lg gencar-gencarnya nih dikota..” ucap abang tukang koran
“ok bang,ntar saya baca. Nih uangnya.. masih seharga biasa kan?? Gak naik juga karna ada top news ini..!!” canda triX sambil memberi uang
“nggak kok dek...” ucap abang tukang koran

Abang tukang koranpun pergi

triX pun masuk kedalam rumah,karna penasaran triX pun membaca koran tersebut.
Dengan judul besarnya “AKHIRNYA SANG INCARAN TERTANGKAP DAN DIKENAI HUKUMAN MATI”

“waahh..mengerikan sekali judulnya..” ucap triX

triXpun membaca dengan seksama


**koran**
.......
“ Akhirnya Sang incaran yg selama ini dicari-cari telah menampakkan batang hidungnya,dengan berbagai macam kasus yg ia lakukan awalnya aparat mengira ini adalah penjahat paling berbahaya. Tak tanggung-tanggung setelah ia membunuh tak segan pula dilahapnya harta serta uang dan barang bernilai tinggi dari korbannya. Beberapa tempat yg sudah ia lncarkan aksinya yaitu tempat-tempat yg mewah rumah seorang kolektor berlian,rumah seorang hartwan,rumah seorang direktur dan masih banyak lagi. Hingga tibalah ia dirumah seorang cendikiawan yg kaya raya yg telah membuat sebuah perangkap yg serba canggih, hingga rumah ini menjadi tempat dan menjadi aksi terakhirnya. Wanita ini dikenakan sanksi Hukuman Mati karena telah merenggut banyak nyawa. Berdasarkan hasil wawancara kami dengan para keluarga korban menyatakan : “KELUARGA dibalas KELUARGA” >> kalimat ini lah yg akhirnya membuat sang wanita ini menyerah dan mau diajak kekantor polisi,dan korban sempat meninggalkan pesan terakhir “ Kau boleh ambil hidupku,tapi jangan ambil hidup keluarga ku”



triXpun tanpa ia sadari air matanya jatuh menetes....
dan iapun teringat akan kakaknya..

triXpun bergegas menuju kamar kakaknya untuk melepas rindu.


Dan

triX melihat banyak sekali koran yg belum sempat dibereskan oleh kakaknya itu, triX pun membereskan hingga tak sengaja melihat tanda dikoran itu yg ditandai dg spidol merah seperti orang yg sedang mencari lowongan pekerjaan. Namun,anehnya yg dilingkari disana bukan lah nama tempat lowongan pekerjaan melainkan,alamat tempat tinggal orang-orang kaya dikota tempat ia tinggal.


triX pun mengerti dan tertunduk lesu..
badannya lemas seketika,yg terbayang dibenaknya sekarang adalah kakaknya dan teringat akan pesan kakaknya
“kakak yakin kamu anak yg pintar,suatu saat kamu akan mengerti”


triX pun menangis dan tak mengira bahwa pesan itu adalah pesan terakhir dari kakaknya.

GADIS BEKASI


Sekarang 24 September 2018, aku ingin membagikan cerpen yang pernah kutulis saat masih SMA pada tahun 2012, dan pernah aku publikasikan di Facebook. Saat aku masih SMA, aku membaca beberapa novel tidak terlalu banyak seperti seseorang yang memang hobi membaca novel. Aku membaca novel bermodalkan pinjam punya teman yang memang hobi membaca novel. Aku membaca novel tidak hanya satu genre tapi beberapa genre dan dari beberapa novel yang aku baca cukup membuatku ingin juga menulis dan memiliki novel karyaku sendiri, jadilah aku membuat beberapa cerpen lalu aku publikasikan di akun facebookku. Dan untuk mengenang dan mengapresiasi tulisan yang pernah aku tulis dengan sedikit bangga terhadap diriku saat itu (hahaha), aku akan publikasikan lagi disini untuk melihat perkembangan yang telah terjadi pada diriku, mungkin beberapa tulisan masa SMA-ku ini masih berfokus pada kisah romansa,harap dimaklumi karena masih remaja :'D
Dan mohon ma'af kalau terdapat hal-hal yang kurang logis dari penggambaran ceritanya ;) 

28 Juni 2012
Ini adalah sebuah cerpen yang saya kumpulkan saat tugas B.Indonesia di sekolah, Bu guru membacakan potongan cerita lalu murid-murid (khususnya siswa kelas XII di SMAN 1 K*** B***) di tuntut untuk menyambung ceritanya sesuai keinginan masing-masing… 
Maaf kalo jelek yaaah ^^v
Buguru bercerita “Bahwa Masri memiliki janji akan menikahi warsiah kalau Negara sudah merdeka”
di ujung cerita “Masri… Masri… lihatlah bendera kita” ……………………..


‘GADIS BEKASI’
”Masri… Masri… lihatlah bendera kita”  Teriak Warsiah sambil berlari menuju Masri yang sedang mencangkul dikebun. Namun tak ada jawaban dari orang yang dipanggil dengan Masri itu, ia tampak asik dengan cangkulnya. Warsiah mendekati Masri dengan menggebu-gebu.
“Masri… bendera kita Masri… bendera kita…!!”
“Kenapa bendera kita? Apa kau melihat bendera kita berkibar? Sudah bosan aku mendengar kabar ini darimu Warsiah!!”
“tapi,kali ini sungguhan Masri…”
“Di rumah RT? Dengar di radio? Atau?”
Belum selesai Masri melanjutkan kata-kata nya,Warsiah langsung menyela ucapan Masri
“aku melihatnya distasiun… ini sungguhan Masri,kali ini aku tak kan salah!”
Sejenak berpikir,Masripun mempercayai perkataan kekasihnya itu,
setibanya distasiun..
“sudahlah Warsiah,negara kita sedang dijajah.. kabar angin seperti itu sering berhembus,siapa yang tidak mau merdeka? Wajar saja kalau kau berhalusinasi..” ucap Masri pada Warsiah, yang sedari tadi terdiam karna menyadari bahwa dirinya memang benar sedang berhalusinasi.
“kau harus dengar..! aku tak kan melupakan janji kita” ucap Masri sambil memegang kedua bahu Warsiah. Kata-kata nya membuat gadis berambut panjang itu mulai tenang dan sedikit menyunggingkan senyuman manis serta anggukan kecil.

====== oOo ======

                Dibawah hamparan awan putih yang beriringan sayup terdengar hembusan angin ditelinga. Kali ini sedikit aneh.. berbeda sekali..
Suara derap langkah beribu semut mulai memekakkan telinga.
“Warsiah..” ucap Masri mencoba mencairkan suasana
“kau kenapa?” tanya Masri lagi pada gadis yang sedari tadi asik mengelus-elus rambut kepangnya yang ditarik kesamping bahu.
Tak ada jawaban dari Warsiah
“jangan cemas Warsiah,aku akan segera pulang secepat mungkin dan membawa kabar gembira untukmu dan semua warga Indonesia” ucap Masri
Sejenak Warsiah mulai mendengar kembali derap langkah semut lagi. Sejuta untaian kata yang telah dipersiapkanpun tak kunjung diucapkannya.
“ma… Masri…!!” akhirnya keluar juga satu kata dari bibir tipisnya itu
“ya… Warsiah??” Masri menatap penuh tanya
“a..aaku takuut… aku tak ingin kau celaka” ucap Warsiah terbata-bata
“aku mengerti perasaanmu,dan sekarang beban besar  berada dipundakku dan para pemuda lainnya”
Warsiah kembali diam dan mengelus-elus rambut kepangnya.
“jangan khawatir Warsiah! kuharap kau setia menunggu kedatanganku! Pria sejati tak kan mengingkari janjinya” ucap Masri sambil mengacak-acak rambut gadis yang sedang duduk disampingnya itu
“huuhh… waktu ku habis untuk berdandan seperti ini tau..!!” ujar Warsiah sambil merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan
“Warsiah… sebelum aku pergi,aku ingin memberimu ini,aku ingin kau menyimpannya..!!” ujar Masri sambil menyodorkan sebuah kalung berliontin dengan liontin merah yang mencolok.
Masripun memasang kalung itu ke leher Warsiah,tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Warsiah
“Indah sekali…” gumam Masri
“Tampaknya sudah saatnya aku pergi,para pemuda lainnya telah menungguku..” ucap Masri
Warsiah tetap diam dengan raut muka tak rela,isyarat bahwa ia tak menginginkan kekasihnya pergi . Namun,Warsiah sangat mengerti akan posisi Masri.

====== oOo ======
                Dua bulan pun berlalu,semenjak kepergian Masri dan Indonesiapun belum mendapatkan kemerdekaannya. Walaupun begitu Warsiah tetap sabar menanti. Menambah kepanikan Warsiah keadaan Indonesia saat itu tidak stabil dan tidak begitu nyaman,terjadi berbagai pemberontakan dan peperangan diberbagai daerah yang membuat Warsiah menjadi was-was dan tetap berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Masri.
17 Agustus 1945 Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaannya,semua warga Indonesia diberbagai penjuru sangat antusias dan sangat bergembira sekali karena impian selama ini agar Indonesia terbebas dari penjajahan telah terwujud.
Berlipat kebahagiaanpun dirasakan oleh Warsiah. Ia menanti sang kekasih dengan penuh harap.
Sayangnya,sang kekasih tak kunjung datang,namun harapan Warsiah tak kunjung padam.
Lima hari setelah kemerdekaan Indonesia sang pahlawan tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya,jelas saja ini membuat hati Warsiah menjadi gelisah,dan takut.
Dihari keenam setelah kemerdekaan para pemuda yang ikut mempertahankan kemerdekaan pulang menuju daerah mereka masing-masing ,terutama daerah Bekasi tempat Masri dan Warsiah tinggal. Namun,para pemuda daerah bekasi membawa sebuah kabar untuk keluarga Masri terkhususnya untuk Warsiah. Bahwa Masri beserta tiga orang pemuda lainnya telah gugur dalam membela Negara walaupun tidak ikut berperang,namun ia menjadi korban dalam pemberontakan. Mendengar kabar itu warsiah sempat jatuh pingsan.

***
“waaahh…… ceritanya mengharukan sekali oma?” celoteh seorang anak
“bagaimana nasib Warsiah? Apakah dia masih hidup? Dimana dia sekarang?”Tanya seorang anak lagi
“ini hanya sebuah dongeng anak-anak,bukan kejadian sesungguhnya…” ujar wanita tua yang dipanggil oma itu
“ooh…. Kapan-kapan bacain dogeng buat kita lagi ya oma..!!”  pinta anak-anak jalanan tersebut
Wanita tua yang dipanggil oma itu hanya tersenyum simpul
“ayo kita main bola!!” ajak seorang anak sambil sedikit berteriak
Anak-anak jalanan lainnya beranjak dari ruang kelas dengan berlari-lari kecil. Ruang kelas mereka ini atau yang biasa disebut dengan “gubuk” ,ya… gubuk ini setiap hari minggu dijadikan kelas mendongeng dan dari senin hingga jum’at dijadikan kelas untuk menimba ilmu,dengan seorang sukarelawan yang mereka panggil dengan sebutan ‘ oma’. Oma adalah sebutan dari anak-anak ini,penanda bahwa oma lebih berumur dari pada mereka.
Dari dalam ruangan oma mengarahkan pandangan keluar,terlihat anak-anak yang begitu gembira,menentramkan hati dan jiwa. Tiba-tiba pandangan oma tertuju pada bendera merah putih yang berkibar pada tiang yang berada kira-kira 100 meter dari pandangannya,oma menatap penuh arti,tanpa sadar oma  memegang sebuah kalung yang menggantung indah dilehernya. Sebuah kalung berliontin dengan liontin  merah yang mencolok. “aku belum pernah melepas kalung ini Masri,aku merindukanmu

Si Penganggu

Si Pengganggu Kau mengatakan berhenti untuk sengaja membuangku Kau mengatakan maaf untuk membuatmu nyaman di situasi barumu Agar tak a...